31 December 2012

Kenang Paling Manis 2012

Tahun 2012 adalah kenangan paling manis bagi aku. Mana tidaknya, 27/1/2012 aku telah dijodohkan dengan Nor Atikah.

3 Rabiul`Awwal 1434 = 27 Januari 2012 = Penghulu Hari

Banyak juga kenangan pahit yang terpalit sepanjang 2012 ini apabila sesudah berkahwin. Ada suka dan ada duka. Namun segala kedukaan terubat apabila dikurniakan oleh Allah S.W.T seorang anak teruna yang bernama Aryan Iskandar. Gembira tidak terhingga apabila lahirnya Aryan Iskandar. Rasanya inilah hadiah yang paling bermakna dalam hidup. Terima kasih kepada isteriku kerana telah melahirkan anak aku yang pertama. 

Nama Aryan Iskandar adalah sempena pahlawan pujaan aku iaitu Raja Iskandar Zulkarnain, walaubagaimanapun aku juga bersetuju apabila diminta oleh isteriku untuk dia mencadangkan sebahagian lagi namanya iaitu Aryan yang bermaksud penuh kekuatan. Seorang Raja Yang Penuh Kekuatan. Aryan memang seorang budak yang berani. Sejak dilahirkan dia jarang-jarang menangis. Time kena mandi pun tak menangis sangat sekadar menangis terkejut. 5 saat kemudian hilang tangisan budak tu :) . Semasa ianya dilahirkan Aryan hanya menangis sekejap sahaja, kemudian senyap. Lega rasanya Aryan tidak kuat menangis seperti baby-baby lain. Mungkin dia tahu susahnya ibu dan abahnya sekarang. Hopefully dia tak banyak meragam bila sudah besar nanti. 

Abah berdoa agar Aryan sihat,bahagia dan jadi orang yang baik. Jaga ibu elok-elok,ikut kata ibu kerana Syurga dibawah telapak kaki Ibu, bukan bawah telapak kaki awek. :) Bila sudah besar nanti jadilah orang yang berguna bukan jadi sampah masyarakat seperti sesetengah orang tersebut. Rajin baca dan mendalami Al-Quran,rajin tolong orang, dengar kata Ibu,jangan tinggikan suara depan Ibu. 



W`salam

30 December 2012

Nabi Khidir A.S Dan Raja Iskandar Dzul Qarnain



Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: 

“Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit ”, 

malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”. 

Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.

Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.

Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.

mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.

Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.

“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.

Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.

Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.

Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. 

”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”

Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”

Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.

Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.

“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.

Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”

Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”

Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.

1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.

Nabi Ilyas A.S hidup untuk berzikir



Ketika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis.

“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.

“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.

“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.

“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.

Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.

“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.

24 December 2012

Kisah Cinta Seorang Kekasih



Desiran dingin angin Madinah nan kering memecah keheningan senja. Garangnya terasa, menusuk hingga ke tulang. Mentari pula mula memencilkan diri, dikala rembulan mula menjelma. Saat itu, Malaikat maut mulai laksana akan perintah Allah S.W.T untuk menjembut nyawa KekasihNya.

Insan mulia itu mula terasa kesakitan. Tatkala, nyawanya sampai kepusat. Dahi dan sekujur wajahnya suci itu bersimbah peluh. Urat-uratnya menegang dari dekit ke detik. Sambil menitip bibir menahan sakit. Insan mulia itu berpaling kepada sahabatnya. Dilihatnya mata sahabatnya basah, cahayanya makin malap. Katanya kepada sahabatnya, " Ya Jibril, betapa sakit. Alangkah dahsyat derita sakaratul maut ini."

Jibril a.s menoleh ke arah lain. Hatinya sebak melihat dekit itu. "Ya Jibril, mengapa engkau berpaling? Apa engkau benci melihat mukaku?" tanya Insan mulia itu dengan cemas. "Tidak" sakut petugas pembawa wahyu tersebut.

Dipegangnya tangan Insan mulia ini, lalu dia berkata, "Siapakah yang tenang hatinya menyaksikan kekasih Allah S.W.T dalam keadaan seperti ini? Siapakah yang sampai hati melihat Engkau dalam kesakitan?"

Tika saat kesakitan itu kian memuncak, sekujur badan Insan mulia ini menggigil. Wajahnya memutih dan urat-uratnya tambah menegang. Saat kesusahakan yang amat sangat, Insan mulia ini berkata, " Ya Rabbi, alangkah sakitnya. Ya Tuhanku, timpakanlah kesakitan sakaratul maut ini hanya kepadaku, dan jangan kepada umatku."

Jibril a.s tersentak. Begitu agungnya peribadi sang Terpilih. TIka dekit-dekitnya yang paling cemas dan menyiksa, bukan kepentingan dirinya yang diminta. Melainkan kepentingan umatnya yang terdahulukan. Andai kata Insan mulia itu menuntut agar kesakitan itu dicabut, pastilah Kekasihnya S.W.T akan mengabulkan permintaannya. Namun, beliau lebih memilih permohonan agar derita itu tidak menimpa umatnya.

Terkenang akan kisah tentang malaikat penjaga gunung meminta izin kepada Insan mulia itu untuk menghancurkan penduduk Thaif sebagai balasan bagi tindak aniaya mereka kepadanya. Namun, Insan itu bersabda, " Jangan sekeras itu, wahai malaikat Allah. Siapa tahu, jika mereka belum mahu beriman, anak-anaknya akan berimat? Dan jika anak-anaknya belum mahu juga, kuharapkan cucu-cucu mereka akan menerima Islam sebagai agamanya."

Sementara itu Malaikat Maut meneruskan tugasnya sampai ke dada. Nafasnya sudah mulai sesak. Tiba-tiba, dengan suara menggigil dan pandangan meredul menengok ke arah sahabat-sahabatnya dan Insan mulia ini berkata, " Aku wasiatkan kepada kalian menjaga solat dan wanita serta orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Peliharalah mereka baik-baik."

Keaddan bertambah genting. Semua sahabat yang hadir menundukkan kepala lantaran hati mereka tidak dapat menahan kesedihan. Jasad Insan mulia itu berubah menjadi dingin. Hampir seluruh tidak bergerak=gerak lagi. Hanya matanya yang berkaca-kaca sedikit terbuka sambil menatap ke langit.

Saat akhir hela nafas Insan mulia itu. Saidina Ali k.w.j melihat Insan mulia itu menggerakkan bibirnya yang sudah membiru dua kali. Cepat-cepat ia mendekatkan telinganya ke bibir mulia itu. Ia mendengar kalam, "Umatku... umatku..."

Setelah kalimah itu dilisankan, pada Isnin bulan Rabi'ul Awwal. Maka, bumi Madinah dibanjiri dengan tangisan disegenap penjuru kota suci itu. Seorang Insan mulia telah wafat. Cintanya kepada umatnya dibawanya hingga akhir hayat dan akan dibawa sampai kepadang mahsyar.

Bagaimana kasih kita pada Insan mulia ini, Saiyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w ?

23 December 2012

6 Pesanan Kepada Isteri



1. Jaga solat pada awal waktu.
Kalau datang haid sekalipun jika tidak dapat solat, kena duduk atas tikar sembahyang supaya anak tidak  lihat kita meninggal solat.

2. Hidupkan Bacaan Hadis Nabi saw di rumah dengan keluarga.
Dianjur baca Hadis Fadhilat Amal. Ini amalan sahabiah zaman Nabi saw sehingga dari rumah kita keluar  nak-anak yg soleh yg mendoakan kesejahteraan kedua ibubapa dunia/akhirat.

3. Baca Al Quran setiap hari walaupun hanya 8 ayat.
Kalau tak mampu nak baca kerana terlalu sibuk, cukup dengan mencium Al Quran dan muhasabah 'Ya Allah, apa dosa saya hingga saya tak dapat nak baca kitab Mu pada hari ini."

4. Mendidik anak secara Islam.
Mengajar anak-anak dari kecil bermula dengan doa-doa masnun. Iaitu doa seharian Nabi saw saperti doa tidur, bangun tidur, makan dan sebagainya.

5. Hidup sederhana dengan tidak membebankan suami. Setiap hari malaikat akan menghantar 500 jambangan bunga dari syurga untuk wanita yg hidup sederhana. Setiap titisan air masakan dan basuhan mereka akan menjadi zikir mohon keampunan kepada Allah swt atas wanita tersebut.

6. Galak suami untuk bermujahadah atas Agama Allah.
Seorang isteri yg menggalakan suaminya untuk solat berjemaah di Masjid/Surau akan dapat pahala berjemaah suaminya termasuk solat dia sendiri.